Sosiologi UNS, Akhmad Randhon: 75 Tahun Adalah Komitmen Merawat Perbedaan

Urbanjatim.com – Anggota BPIP Romo Benny Susetyo mengatakan bahwa Kelompok Cipayung sudah memiliki keyakinan bahwa selain mereka memiliki identitas, juga telah memiliki keyakinan untuk menghargai seluruh keragaman yang ada.

“Keberadaan fenomena toleransi belakangan-belakangan ini adalah berasal dari pemahaman yang tidak utuh terhadap agama. Maka interaksi itu harus pula diarahkan ke arah saling memahami tadi yang terus menerus. Yang mana di Indonesia sudah sangat harmonis sejak dahulu kala dalam bergandengan,” pungkas Romo Benny Susetyo dalam daring youtube yang disampaikan pada acara webinar Refleksi 75 tahun kemerdekaan, Selasa (08/09) di Google Meet.

“Kita berharap dari kelompok forum ini juga dapat tercipta kelompok yang meskipun berbeda keyakinan, tetapi satu tujuan dan cita-cita, yaitu menciptakan Indonesia yang damai sehingga kita dapat keluar dari krisis ini agar tidak mengalami kehancuran,” lanjut Romo Benny.

Sosiologi FISIP UNS, Akhmad Ramdhon, menjelaskan bahwa refleksi 75 tahun kemerdekaan bukanlah refleksi mundur tapi adalah komitmen merawat perbedaan, komitmen merawat keragaman dalam agenda-agenda kebangsaan.

“Sehingga kita mendukung komitmen kerja-kerja bersama, untuk memastikan mendorong kembali kebebasan akademik di kampus melibatkan kembali organ ekstra dalam dinamika-dinamika di kampus,” tegas Akhmad Ramdhon yang juga sebagai moderator pada webinar tersebut.

Di kegiatan yang sama Ketua HMI Cabang Surakarta Romadhon mengatakan bahwa refleksi Pancasila adalah menjamin iklim diskusi di kampus, jangan sampai kebebasan akademik dilarang.

“Aspek lain yang harus dikawal, bukan hanya soal keberagaman, bukan hanya soal masalah intoleransi tapi juga soal nilai-nilai Pancasila yang harus kita respon, dan masalah kebebasan berpendapat, masalah keadilan, fenomena kesenjangan sosial,” kata Romadhon.

Senada dengan HMI, Ketua PMII Surakarta, Putri Lestari mengatakan bahwa ada yang perlu kita bangkitkan yaitu semangat kebersamaan kita. Pergulatan identitas-identitas harusnya perlu dikesampingkan dulu untuk membangun gerakan bersama.

Misalnya dengan lewat aliansi-aliansi, sebab sebagai anak muda kita memiliki tugas bagaimana kita semua bisa memiliki kontribusi pembangunan bangsa ini.

“Kami dari PMII menyikapi isu intoleransi hari ini terjadi khususnya di Surakarta, mengutuk keras sikap tertentu. Karena dalam kehidupan sehari-hari kita harus saling menghargai kepercayaan dan keyakinan bersama satu sama lain. Juga ketika terjadi berpedaan pendapat,” tukas Putri di webinar refleksi 75 tahun kemerdekaan, Selasa (08/09).

Menyikapi hal tersebut, Ketua LMND Surakarta, Andaru W, bahwasanya jika kita bicara Indonesia maka kita tidak lepas dari permasalahan. Salah satunya isu toleransi yang meletakkan kegoisme agama-agama tertentu.

“Jika kita bicara soal intoleransi menganggap bahwa mayoritas adalah kebenaran itu sendiri. Nah cara menyelesaikannya adalah dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” tukas Ketua LMND Surakarta, Andaru W, dalam webinar refleksi 75 tahun kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here