Hindari Bully dalam Orientasi Sekolah, GSM Kabupaten Blitar Adakan Kuliah Online

Prof. Novi Poespita Chandra, saat memberikan materi GSM. Ikhsan/Urbanjatim.com

Urbanjatim.com, Blitar – Di era digital seperti sekarang ini sangat tidaklah sulit untuk mencari ilmu semisal untuk kegiatan seminar atau kuliah tidak harus selalu bertatap muka secara langsung dengan pematerinya,  sebagaimana acara Kuliah online yang digagas oleh kelompok Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang dimotori oleh Beti Wirandini selaku koordinator wilayah Blitar, Selasa malam (18/2), dengan tema “Membangun Sekolah Anti Bulliying Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan”.

Adapun yang menjadi peserta pada kegiatan tersebut adalah ratusan guru, mahasiswa, dan pengamat pendidikan serta para relawan yang peduli akan perubahan pendidikan se-Jawa Timur dan beberapa perwakilan di luar Jawa Timur.

Beti, sapaan akbranya, menjelaskan bahwa tujuan diselenggarakan acara sekolah online ini adalah supaya materi tentang GSM dapat terserap secara utuh dan menyeluruh.

“sekarang teknologi kan sudah canggih mas, jadi sengaja kami konsep sekolah online ini supaya supaya materi GSM bisa terserap secara utuh dan memyeluruh langsung dari foundernya”. Terang alumnus Pasca Sarjana FH Universitas Brawijaya ini.

Beti juga berharap dengan adanya acara ini dapat memotivasi para pelaku pendidikan atau mereka yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan.

“saya berharap melalui acara ini semua guru, relawan pendidikan, dan atau pihak yang peduli terhadap pendidikan dapat termotivasi untuk melakukan perubahan mindset di dunia pendidikan”. Imbuhnya.

Sedangkan yang menjadi pemateri adalah Prof. Novi Poespita Chandra,  M.Si., P.hd. psikolog lulusan Melbourne University, Australia dan Dosen Psikologi di UGM.

Sekilas paparan beliau Yang pertama harus dipahami  bahwa bullying bisa dilakukan oleh seorang anak yang disebabkan oleh banyak faktor bisa keluarga, tekanan sosial, sekolah dan sebagainya.

Study neuropsikologi menemukan fakta anak-anak yang telah melakukan kekerasan atau bullying disebabkan karena stimulasi pada area otak empatiknya yang tidak dapat berfungsi secara optimal.

area itu bernama prefrontal cortex, Artinya anak anak atau manusia yang melakukan kekerasan diakibatkan karena mereka tidak mampu mengendalikan emosi, dan rasa empati juga perilaku agresif nya yang diatur oleh area otak itu”. Terangnya.

Menurut Co- Founder GSM ini ada penelitian di pusat neurologi, bahwa 70 % lebih, anak Indonesia usia 15 tahun fungsi pre-frontal cortexnya lemah, oleh sebab itu rentan melakukan bullying. Karena selama ini pendidikan Indonesia hanya fokus pada akademik, hapalan yang itu hanya menstimulasi area otak reptil.

lebih lanjut dia menjelaskan bahwa Sekolah hanya melakukan aktivitas yang cenderung menekankan pada akademis dan kurang menstimulasi area otak empatik tersebut.

“saya tidak kaget jika kekerasan akan semakin mudah dilakukan anak-anak kita, atau bahkan juga kita kita orang dewasa di sekitarnya karena tekanan sistem pendidikan, yang terpenting dalam membangun sekolah anti bullying, adalah melalui upaya promotif dan preventif, caranya adalah menciptakan suasana dan ekosistem sekolah yang positif, etis, saling menghargai, saling mengasihi dan kasih sayang”. Imbuhnya.

Ekosistem seperti ini akan menghasilkan anak anak yang empatik. Ekosistem yang saling menghargai akan menstimulasi area otak empati di pre-frontal sehingga anak anak akan mampu mengendalikan emosi dan perilaku saat terjadi kejadian tidak menyenangkan.

GSM hadir sebagai gerakan untuk mengubah kultur sekolah di Indonesia agar tidak hanya fokus di pendidikan tapi minim empatik. GSM memiliki platform (ramuan) agar anak anak dapat tumbuh di sebuah ekosistem yang mampu menatimulasi otak empatik mereka sehingga mereka tumbuh menjadi insan yang berkarakter.

“Penelitian yang kami lakukan di GSM, menunjukkan hasil bahwa sekolah-sekolah GSM, mampu menurunkan angka kekerasan dan bullying di sekolah Platform perubahan yang ada di platform GSM dengan area perubahan, seperti, Mindset guru, Penciptaan lingkungan positif dan etis, Konektivitas dengan rumah dan komunitas masyarakat, serta Penumbuhan karakter melalui sosial emosional learning.” Jelasnya.

Jadi secara umum, beliau meyakini kasus kekerasan dan bullying tidak akan berkurang di sekolah Indonesia, jika tidak ada perubahan paradigma pendidikan.

“bullying tidak akan berkurang dan justru semakin meningkat ketika akademik masih menjadi ‘raja’, karena itulah sebab melemahnya otak empatik yang akan mengontrol perilaku anak anak, maka GSM merupakan platform utk mentranformasi kultur sekolah lama menjadi kultur sekolah yang lebih manusiawi”. Pungkasnya. (Ikh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here