Urbanjatim.com, Surabaya – Pernah nggak sih kamu beli produk dengan klaim “eco-friendly” atau “go green”, tapi ternyata itu cuma taktik marketing belaka? Fenomena yang dikenal sebagai greenwashing ini makin marak di industri masa kini dan bikin konsumen makin susah membedakan mana brand yang beneran peduli lingkungan, mana yang cuma sekadar gimik.
Menanggapi isu ini, dosen Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bara Awanda Marhendra buka suara soal pentingnya metode Life Cycle Assessment (LCA) sebagai solusinya.
Bara menjelaskan, greenwashing itu ibarat kata “hijau semu”. Upaya komunikasi atau iklan yang bikin produk kelihatan ramah lingkungan, padahal faktanya jauh dari itu. Bentuknya bisa macam-macam, mulai dari misleading claims (klaim menyesatkan) sampai selective disclosure (cuma mau memamerkan info yang bagus-bagus aja).
“Bentuknya bisa sangat bermacam-macam dan tidak terlihat,” beber dosen dari Laboratorium Teknologi Pengolahan Air ITS tersebut.
Praktik kayak gini jelas merugikan. Selain bikin konsumen salah pilih produk, greenwashing juga menyembunyikan efek buruk industri terhadap lingkungan.
“Hal ini juga dapat dikategorikan sebagai bentuk penipuan,” tegas lulusan master dari ETH Zürich, Swiss ini.
Nah, di sinilah Life Cycle Assessment (LCA) masuk sebagai penawar. LCA adalah metode evaluasi menyeluruh buat menghitung dampak lingkungan suatu produk sepanjang daur hidupnya. Mulai dari pengambilan bahan baku, proses produksi, masa pakai, sampai saat produk itu dibuang atau didaur ulang.
Gak cuma itu, hasil LCA bisa ditunjukkan ke konsumen lewat Environmental Product Declaration (EPD). Jadi, klaim ramah lingkungan bukan cuma sekadar buzzword di kemasan, tapi ada data valid di baliknya.
Di Indonesia sendiri, LCA sebenarnya udah mulai dipakai di sektor industri, salah satunya lewat kriteria penilaian PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) dari pemerintah untuk meraih peringkat Hijau dan Emas.
Tapi jujur aja, penerapannya di lapangan masih ketemu jalan terjal. Banyak perusahaan yang masih ragu karena harus menyeimbangkan antara keuntungan bisnis dan biaya operasional yang ramah lingkungan. Apalagi kalau regulasi dan sanksinya belum benar-benar tegas, praktik greenwashing bakal terus menjamur.
Bara menekankan perlunya edukasi masif buat para produsen dan tindakan nyata dari pemerintah lewat pengawasan serta regulasi yang lebih ketat.
Di sisi lain, konsumen juga diajak buat makin smart dan kritis pas belanja. Jangan cuma kepikiran harga murah, tapi mulai cek juga jejak lingkungan dari produk yang kita beli. Langkah kecil ini sejalan banget sama poin ke-12 Sustainable Development Goals (SDGs) tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
“Perusahaan dapat menjalankan kegiatan operasionalnya sembari menjaga dampak terhadap lingkungan,” tutup dosen kelahiran Malang tersebut.

