SIDOARJO – Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan atau yang akrab disapa Gus Heri kembali menorehkan prestasi melalui kiprahnya dalam mendorong kemandirian ekonomi santri dan pesantren. Setelah meraih Santripreneur Award 2025, pendiri Santripreneur Academy Nusantara Foundation (SAN Foundation) tersebut kembali mendapat apresiasi dengan masuk dalam daftar 22 Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026 yang ditetapkan Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FJN).
Pengakuan tersebut terasa istimewa karena bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026). Gus Heri dinilai menjadi salah satu figur dari kalangan dunia usaha yang aktif mendorong tumbuhnya kewirausahaan serta memperkuat kemandirian ekonomi di lingkungan santri dan pesantren.
Dalam daftar bertema Wajah NU di Abad ke-2 tersebut, Gus Heri berada di antara tokoh-tokoh muda Nahdliyin dari berbagai bidang pengabdian, mulai dari pesantren, pemerintahan, politik, akademisi, hingga dunia usaha. Penetapan 22 penerima apresiasi itu diumumkan pada Kamis (22/10/2026), dalam penyelenggaraan penghargaan yang memasuki tahun ketujuh.
Bagi Gus Heri, apresiasi tersebut bukan sekadar pengakuan atas perjalanan yang telah ditempuh. Lebih dari itu, penghargaan menjadi pengingat bahwa pengabdian harus terus berlanjut melalui karya dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada teman-teman FJN atas apresiasi dan kepercayaannya. Saya bersyukur atas perjalanan dan kesempatan untuk terus berkarya selama ini. Namun, saya juga menyadari bahwa masih banyak yang harus dipelajari, diperbaiki, dan dikerjakan,” ujar Gus Heri, Kamis, (29/10/2026).
Ia menegaskan, dirinya ingin terus mengambil bagian dalam membangun Indonesia melalui bidang yang selama ini ditekuni, yakni kewirausahaan dan gerakan kemandirian ekonomi santri serta pesantren.
“Saya ingin terus mengambil bagian dalam membangun Indonesia melalui jalan yang saya tekuni, yaitu kewirausahaan dan gerakan kemandirian ekonomi santri dan pesantren,” lanjutnya.
Sebelum masuk dalam daftar 22 Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026, Gus Heri lebih dahulu meraih predikat Pemenang Utama kategori Jasa dan Kreatif dalam Santripreneur Award 2025 yang diselenggarakan Santripreneur Indonesia di Gedung Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Jakarta.
Penghargaan tersebut berkaitan dengan kiprahnya dalam mendorong kewirausahaan santri melalui pengembangan usaha berbasis riset, teknologi, dan inovasi. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membuka ruang bagi santri untuk tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki kapasitas dalam membangun usaha dan menciptakan peluang ekonomi.
Meski telah menerima sejumlah apresiasi, Gus Heri mengingatkan bahwa penghargaan tidak seharusnya menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalanan pengabdian.
Menurutnya, keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada seberapa jauh gagasan, usaha, dan karya yang dikembangkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Ukuran yang lebih penting bukan seberapa banyak apresiasi yang kita terima, tetapi seberapa jauh pekerjaan kita benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Pandangan tersebut menjadi landasan bagi Gus Heri dalam mengembangkan berbagai gagasan mengenai kewirausahaan dan penguatan ekonomi santri. Baginya, penghargaan justru harus menjadi dorongan untuk terus belajar, berinovasi, dan memperluas dampak positif dari setiap upaya yang dilakukan.
Merawat Semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda
Momentum Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda juga menjadi ruang refleksi bagi Gus Heri untuk melihat kembali peran generasi muda dalam perjalanan bangsa.
Ia mengingatkan bahwa Resolusi Jihad yang diserukan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menjadi tonggak penting yang menegaskan persatuan generasi muda dalam memperjuangkan masa depan bangsa.
Kedua peristiwa tersebut lahir dari konteks sejarah yang berbeda, tetapi memiliki pelajaran yang relevan bagi generasi sekarang: keberanian mengambil peran dan kesediaan menjawab tantangan sesuai dengan kebutuhan zamannya.
“Para pendahulu telah menunjukkan keberanian mengambil peran pada zamannya. Hari ini medan perjuangan kita berbeda. Ada tantangan pendidikan, ekonomi, lapangan kerja, teknologi, dan daya saing. Generasi muda harus mampu menjawabnya melalui ilmu pengetahuan, kerja nyata, dan kolaborasi,” tuturnya.
Menurutnya, semangat perjuangan para pendahulu perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret yang sesuai dengan tantangan masa kini. Generasi muda tidak cukup hanya mengenang sejarah, tetapi juga harus mempersiapkan diri agar mampu menghadapi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.
Dalam konteks tersebut, santri memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis. Berbekal nilai-nilai keislaman, tradisi keilmuan pesantren, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, santri dapat berkontribusi dalam berbagai sektor, termasuk dunia usaha dan pengembangan ekonomi masyarakat. (*)

